Ft (Ilustrasi)
Oleh (Junaidi, Mahasiswa Pascasarjana Institut Syariah Negeri Junjungan Bengkalis).
Pasar modal sering dipersepsikan sebagai arena perebutan keuntungan semata, tempat angka-angka berlari cepat dan spekulasi menjadi permainan utama. Namun, dalam perspektif Islam, pasar modal bukan sekadar mesin pencetak laba.
Ia adalah ruang moral, tempat nilai-nilai agama bertemu dengan aktivitas ekonomi, sehingga keuntungan tidak hanya diukur dari sisi materi, tetapi juga dari keberkahan dan kemaslahatan yang dihasilkan.
Etika bisnis dalam pasar modal Islam berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah, yang menekankan keadilan (‘adl), kebenaran (sidq), transparansi, serta penghindaran praktik yang merugikan, seperti riba, maisir, dan gharar.
Prinsip-prinsip ini bukan sekadar aturan teknis, melainkan fondasi filosofis yang memastikan setiap transaksi membawa manfaat bagi individu sekaligus masyarakat. Dengan kata lain, pasar modal syariah hadir bukan hanya untuk memperkaya, tetapi juga untuk menyejahterakan.
Pilar Etika: Menghindari Riba dan Spekulasi
Salah satu pilar utama adalah penghindaran riba. Dalam konteks modern, riba tidak hanya berarti bunga pinjaman konvensional, tetapi juga praktik yang menghasilkan keuntungan tanpa usaha atau risiko yang sepadan, seperti spekulasi berlebihan yang memicu manipulasi harga.
Pasar modal syariah menuntut setiap instrumen investasi berbasis pada aset riil dan aktivitas bisnis yang halal. Keuntungan harus lahir dari nilai tambah nyata, bukan dari permainan angka yang eksploitatif.
Transparansi dan Akuntabilitas
Selain itu, transparansi dan akuntabilitas menjadi syarat mutlak. Islam menegaskan bahwa setiap pihak dalam transaksi harus memiliki akses informasi yang jelas dan jujur.
Regulasi pasar modal syariah pun menuntut perusahaan untuk menyajikan laporan keuangan yang akurat dan terbuka.
Dengan demikian, investor dapat mengambil keputusan berdasarkan data yang benar, sementara perusahaan dituntut bertanggung jawab atas setiap kebijakan yang memengaruhi nilai investasi dan kepentingan publik.
Pemberdayaan Ekonomi dan Keadilan Sosial
Lebih jauh, etika bisnis Islam menekankan pemberdayaan ekonomi dan keadilan sosial. Pasar modal syariah tidak boleh menjadi arena eksklusif bagi segelintir elit, melainkan harus membuka akses bagi seluruh lapisan masyarakat. Instrumen seperti sukuk (obligasi syariah) menjadi contoh nyata: ia digunakan untuk membiayai proyek-proyek yang bermanfaat luas, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pendidikan dan kesehatan. Prinsip zakat maal pun mengingatkan bahwa sebagian keuntungan harus dialokasikan untuk membantu mereka yang kurang mampu, menciptakan siklus ekonomi yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Berdasarkan data, perkembangan pasar modal syariah di Indonesia menunjukkan tren positif:
Total aset keuangan syariah nasional per Juni 2025 mencapai Rp2.972,94 triliun, tumbuh 8,21% year-on-year.
Jumlah investor pasar modal Indonesia per Juli 2025 menembus 17 juta SID, rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Investor saham syariah meningkat lebih dari 121% dalam 5 tahun terakhir, dengan lebih dari 190 ribu investor aktif di Bursa Efek Indonesia.
Penerbitan sukuk syariah terus meningkat, membiayai proyek strategis di bidang infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
Doddy Eka Putra, praktisi pasar modal syariah, menegaskan: “Pasar modal syariah terus berkembang pesat dan menjadi pilihan investasi yang menguntungkan sekaligus terpercaya. Di balik kemajuan ini, terdapat tokoh-tokoh berpengaruh yang mengarahkan pasar modal syariah ke arah yang lebih solid.”
Otoritas Jasa Keuangan dalam Laporan Perkembangan Keuangan Syariah Indonesia (LPKSI) menekankan komitmen memperkuat regulasi dan roadmap keuangan syariah agar tetap relevan dengan standar global.
Sementara ini, Dewan Syariah Nasional MUI menegaskan bahwa investasi syariah halal selama memenuhi prinsip dasar: bebas dari riba, maisir, dan gharar, serta berbasis pada aktivitas bisnis yang nyata.
Tantangan dan Harapan dimasa hadapan.
Meski tumbuh pesat, tantangan tetap ada: memastikan perusahaan yang masuk bursa syariah benar-benar halal, meningkatkan literasi investor, dan menyelaraskan standar internasional dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan publik menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memahami dimensi sosial dan spiritual dari investasi syariah.
Pasar modal syariah Indonesia kini bukan sekadar alternatif, melainkan arus utama dalam industri keuangan. Dengan data pertumbuhan yang impresif dan dukungan tokoh serta ulama, etika bisnis Islam terbukti mampu menyejajarkan keuntungan dengan ketaatan.
Di tengah ketidakpastian global, pasar modal syariah menawarkan jalan investasi yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan—sebuah tawaran peradaban bahwa ekonomi dapat tumbuh tanpa kehilangan nurani, dan keuntungan dapat diraih tanpa mengorbankan nilai-nilai ketaatan (Jnd).
